• (024) 6723-456
  • info@stekom.ac.id

Tulisan ini berawal  dari pengamatan penulis terhadap seorang pemilik Toko Kelontong di sekitar kampus Universitas Diponegoro (UNDIP) Tembalang. Ketika UNDIP belum seperti sekarang ini ramainya, toko kelontong tersebut cukup dikenal di daerah tersebut serta berkembang dengan baik. Namun ketika seluruhnya program S1 UNDIP  pindah ke daerah Tembalang, maka daerah tersebut otomatis berkembang dengan pesat. Keadaan tersebut secara otomatis mendorong hadirnya minimarket baru (seperti , Indomaret, Alfamart) yang cukup banyak di daerah tersebut. Akhirnya toko kelontong tersebutpun dikepung oleh 4 minimarket (2 Indomaret dan 2 Alfamart) yang masing-masing 2 minimarket berlokasi dibelakang toko kelontong tersebut, dan 2 minimarket di depan toko kelontong tersebut yang masing-masing berjarak 50 meter hingga 200 meter  dari toko kelontong tersebut.

Apakah toko kelontong tersebut mengalami kehancuran dan kebangkrutan ? Jawabannya ternyata tidak. Jika melihat pengalaman sebelumnya dari berbagai toko kelontong , banyak toko kelontong mengalami kehancuran dan kebangkrutan jika minimarket seperti Indomaret, Alfamart, Alfamidi sudah berkembang di dekat mereka. Hal ini  karena minimarket menawarkan barang dengan harga yang umumnya  lebih murah di bandingkan dengan barang yang sama di toko kelontong. Selain itu, minimarket menyediakan tempat yang nyaman, wangi, bersih, dan ber ac yang menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen untuk berbelanja di minimarket tersebut dibandingkan dengan di toko kelontong. Namun, toko kelontong ini tetap bertahan dan bahkan toko kelontong tersebut berkembang dengan pesat . Dengan penuh keheranan dan kekaguman karena “ketahanan” toko kelontong tersebut menghadapi gempuran dari minimarket tersebut, penulispun memberanikan diri bertanya kepada pemilik toko kelontong tersebut. Ada beberapa hal yang bisa penulis simpulkan dari hasil pembicaraan tersebut :

1.   Sering Mengunjungi Minimarket

Pemilik toko kelontong ini rajin berkunjung ke salah satu dari keempat minimarket tersebut secara bergantian untuk membeli beberapa jenis produk di minimarket tersebut dan selanjutnya pemilik toko kelontoong tersebut membandingkan harga produk tersebut dengan harga produk yang sama di toko kelontong miliknya. Selain itu, si pemilik toko kelontong juga mengamati produk-produk yang tidak dijual dan yang dijual di minimarket tersebut serta bentuk-bentuk promosi apa saja yang dilakukan di minimarket tersebut. Aktivitas yang dilakukan oleh  pemilik toko kelontong ini di dalam pemasaran (marketing) sering disebut dengan marketing intellegence. Menurut Huster (2005) , marketing intellegence adalah "kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan menilai lingkungan internal dan eksternal yang terkait dengan pelanggan, pesaing, pasar, industri dan menggunakan pengetahuan yang diperoleh untuk perencanaan strategis jangka panjang dan pendek dengan tujuan akhir meningkatkan respons pemasaran".

Dari kegiatan  marketing intellegence tersebut pemilik toko kelontong melakukan aktivitas-aktivitas sebagai berikut :

a.    Menerapkan strategi fokus khususnya kepada produk-produk di toko kelontongnya yang memiliki harga lebih murah dibandingkan dengan harga produk yang sama di minimarket tersebut. Harga lebih murah dibandingkan pesaing merupakan kekuatan toko kelontong ini yang menjadi fokus untuk dimaksimalkan penjualannya oleh pemilik toko kelontong tersebut. Misalnya, harga air minum botol kemasan (aqua,pelangi,ades,dll), berbagai macam jenis rokok.plastik, termos tempat minum, dll yang harganya lebih murah di toko kelontong miliknya dibandingkan dengan harga di minimarket dimaksimalkan penjualannya.

b.   Penataan produk yang lebih menarik.

Produk-produk yang harganya lebih murah dibandingkan dengan produk yang sama di minimarket diletakkan diposisi depan. Jadi semua produk yang lebih murah dibandingkan produk yang sama di minimarket di letakkan di depan dengan penataan yang menarik sehingga memudahkan konsumen melihat produk tersebut untuk mengundang konsumen ingin mengetahuinya

c.    Menyediakan serta menjual produk-produk yang tidak tersedia  dan dijual di minimarket tersebut, namun produk tersebut dibutuhkan oleh konsumen, misalnya menjual ember, gayung mandi, sapu,cangkir,mangkuk, dll yang mana produk-produk tersebut tidak dijual di minimarket tersebut.

Ketiga cara atau strategi di atas di dalam pemasaran (marketing) sering disebut dengan market orientation . Menurut Narver dan Slater (1990), orientasi pasar (market orientation) terdiri dari tiga subkomponen: orientasi pelanggan (customer orientation) dengan memahami kebutuhan dan keinginan pelanggan, orientasi pesaing (competitor orientation) dengan memahami kekuatan dan kelemahan pesaing dan bagaimana mereka memuaskan kebutuhan dan keinginan pelanggan, dan koordinasi interfungsional dengan penggunaan sumber daya organisasi secara luas oleh perusahaan dalam menciptakan nilai pelanggan yang unggul. Menurut Day (1994:43), elemen-elemen ini secara kolektif mendukung nilai kecerdasan pasar (market intellegence) yang secara fungsional diarahkan untuk memperoleh keunggulan kompetitif..

2.   Meminta karyawannya mempromosikan produk yang ada di toko kelontong tersebut. Promosi dilakukan dengan berbagai cara :

a.       Menyebar leaflet dan brosur ke mahasiswa dan tempat kost mahasiswa, dimana promosi seperti ini merupakan cara yang lazim dilakukan oleh setiap usaha termasuk mini market.

b.      Menyampaikan secara lisan kepada konsumen yang berbelanja di toko kelontong tersebut tentang produk-produk yang harganya lebih murah dibandingakn jika konsumen membelinya di tempat lain seperti  di minimarket tersebut. Pemilik toko kelontong berkeyakinan, konsumen akan menyampaikan juga kepada teman-temannya, keluarganya, dan komunitasnya tentang keberadaan produk yang ada di toko kelontong miliknya khususnya produk-produk yang harganya lebih murah dibandingkan harga produk yang sama di minimarket. Dalam pemasaran (marketing) promosi seperti ini disebut dengan bahasa mulut (Word of Mouth - WOM) . Dalam istilah yang umum dipakai dalam bahasa Jawa dikenal dengan istilah “getok tular” atau “ diomong-omongke”, dan dalam istilah candaan kami di marketing sering disebut dengan istilah “bergosip” . Dengan sederhana Word-of-mouth (WOM) didefinisikan sebagai berbagi informasi tentang suatu produk antara konsumen dan teman atau kolega atau kenalannya. Word-of-mouth (WOM)   dapat mempengaruhi pandangan orang lain  , pemikiran dan keputusan mereka. Jika kekuatan dari Word-of-mouth (WOM)  dimanfaatkan dengan benar, itu bisa memasarkan produk/jasa apa saja  dalam jangka waktu yang lama. Ia memiliki kekuatan untuk menciptakan citra yang kuat dalam pikiran individu. Bersamaan dengan ini, konsumen akan jauh lebih percaya dan menerima dukungan suatu produk dari seseorang yang dianggap tidak mendapatkan apa-apa dari menawarkan dukungan, daripada dari seseorang yang melakukannya..

Mungkin pemilik toko kelontong tersebut tidak pernah belajar ilmu pemasaran dan kewirausahaan. Dia hanya  membuka usaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya tanpa pernah mempertimbangkan jika suatu saat dia harus mengalami persaingan yang cukup tajam dan keras atau bahkan terdampak pandemi covid 19. Namun tanpa disadarinya , pemilik toko kelontong tersebut telah menerapkan konsep dan strategi pemasaran dan kewirausahaan yaitu dengan segala keberanian dan tekad yang pantang menyerah,terus belajar, inovasi (inovatiiveness), proaktif (proactiveness), mengambil resiko (risk taking), agresif berkompetisi (competitive aggresiveness) , dan otonomi (autonomy).pemilik toko kelontong tersebut mampu membawa usahanya berkompetisi  dengan minimarket yang didukung oleh manajemen modern yang pada akhirnya toko kelontong miliknya pun dapat berkembang dengan pesat. . Bagaimana dengan kita ?? Tentu kita yang sudah mempelajari dan membekali diri dengan ilmu pemasaran (marketing) dan kewirausahaan (entrepreneurship) diharapkan lebih baik dari pemilik toko kelontong di atas.

 Copyright stekom.ac.id 2018 All Right Reserved